Feeds:
Tulisan
Komentar

1984 1984 by George Orwell

View all my reviews >>“>

ARTIKEL PENDIDIKAN

JAWA POS, Selasa, 05 Feb 2008,
Melatih Social Skill Siswa

Oleh M. ANSHOR SJA’RONI
Sebagai makhluk sosial, seseorang dituntut mampu mengatasi segala permasalahan yang timbul sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan sosial. Ia juga harus mampu menampilkan diri sesuai dengan aturan atau norma yang berlaku. Karenanya, orang dituntut menguasai keterampilan sosialnya ( social skill). Keterampilan tersebut biasanya disebut sebagai aspek psikososial.

Keterampilan sosial dan kemampuan penyesuaian diri menjadi makin penting ketika anak sudah menginjak masa remaja. Pada masa itu, individu sudah memasuki dunia pergaulan yang lebih luas, dimana pengaruh teman-teman dan lingkungan sosialnya akan sangat menentukan. Kegagalan remaja dalam menguasai keterampilan sosial akan menyebabkan dia sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Hal itu bisa menyebabkan rasa rendah diri, dikucilkan dari pergaulan, cenderung berperilaku yang kurang normatif. Dalam perkembangan yang lebih ekstrem, hal itu bisa menyebabkan terjadinya gangguan jiwa, kenakalan remaja, tindakan kriminal, sampai tindakan kekerasan.

Salah satu tugas perkembangan yang harus dikuasai remaja –dalam fase perkembangan remaja madya dan remaja akhir– adalah memiliki keterampilan sosial untuk dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan sehari-hari. Keterampilan sosial tersebut meliputi kemampuan berkomunikasi, menjalin hubungan dengan orang lain, menghargai diri sendiri dan orang lain, mendengarkan pendapat atau keluhan dari orang lain, memberi atau menerima kritik, bertindak sesuai norma dan aturan yang berlaku, dan sebagainya.

Lembaga pendidikan mempunyai peran penting dalam membantu remaja mengembangkan keterapilan sosial. Untuk itu, kurikulum pendidikan harus komprehensif dan responsif terhadap dinamika sosial, relevan, dan mampu mengakomodasi keberagaman keperluan dan kemajuan teknologi. Di tingkat mikro, harus ditemukan strategi pembelajaran yang efektif di kelas, yang lebih memberdayakan potensi siswa.

Dalam hal pendekatan pembelajaran yang efektif, guru dituntut kreatif dalam penyusunan dan penyajian materi. Sementara itu, siswa harus didorong lebih aktif dalam proses belajar mengajar untuk mencari dan menemukan jawaban atas apa yang mereka pelajari serta memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa belajar akan lebih produktif dan menyenangkan jika siswa merasakan suatu perasaan memiliki dan merasa sebuah kelas berfungsi sebagai komunitas yang peduli. Oleh karena itu, guru hendaknya memilih metode yang dapat membangkitkan minat, daya kreasi, dan kemampuan bernalar siswa sesuai karakter serta potensi yang dimiliki masing-masing siswa.

Hal pertama yang harus dilakukan guru adalah mengubah individu (siswa) di kelas menjadi suatu kelompok belajar yang efektif dan kohesif. Dalam pembelajaran berbasis kelompok, terdapat unsur latihan keterampilan sosial ( social skill). Keterampilan ini tidak dapat dicapai dengan hanya meminta siswa bekerja sama. Social skill dirumuskan dalam tujuan pembelajaran sebagai bentuk latihan yang disengaja dan dirancang bersamaan dengan tujuan akademik. Cakupannya meliputi keterampilan memimpin, berkomunikasi, musyawarah, pengelolaan konflik, memercayai orang lain, menghargai kontribusi teman, berbagi dalam tugas, memunculkan partisipasi, dan menghormati adanya perbedaan.

Beberapa komponen yang harus ada dalam melatih sosial skill siswa adalah adanya saling ketergantungan positif, adanya akuntabilitas individual, heterogenitas anggota, adanya pimpinan kelompok, dan adanya pengajaran langsung tentang kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi, mempercayai orang lain, dan pengelolaan konflik.

Dalam pembelajaran berbasis kelompok, peran guru tidak lagi dominan. Guru bukan satu-satunya sumber informasi pengetahuan bagi siswa. Di samping guru, siswa dapat menggali informasi pengetahuan dari sesama siswa dalam kelompok belajar. Sementara itu, masing-masing siswa dalam kelompok dapat menggali informasi dari berbagai sumber (perpustakaan, koran, televisi, internet, orang tua, atau dari orang yang mempunyai kompetensi dan keahlian tertentu) yang nantinya informasi itu dibagi dengan siswa lain dalam kelompok belajar.

Beberapa peran guru dalam melatih Sosial skill siswa yaitu: merumuskan tujuan pembelajaran dan keterampilan sosial, menentukan kriteria dan jumlah anggota kelompok belajar, merancang kerja sama antarkelompok, menjelaskan kriteria perilaku dan keberhasilan siswa, serta memantau dan menilai kualitas pekerjaan siswa.

Kegiatan awal setelah terbentuknya kelompok belajar adalah membentuk pengurus kelompok yang terdiri dari ketua dan sekretaris. Pembentukan ini dimaksudkan agar setiap kelompok mempunyai tanggung jawab terhadap tugas-tugas dari guru serta melatih nilai kepemimpinan siswa. Proses pemilihan pengurus kelompok dilakukan secara demokratis.

Selanjutnya, setiap kelompok membuat aturan-aturan dalam kelompoknya, dalam hal kewajiban dan hak serta tanggung jawab anggota dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Proses pembuatan aturan dan norma kelompok dilakukan dengan cara berdiskusi. Setelah menghasilkan aturan kelompok, masing-masing kelompok mempresentasikan aturan yang telah dibuat untuk diketahui oleh guru dan kelompok lain.

Untuk memantau kegiatan anggota kelompok dan pembagian tugas, setiap kelompok membuat jurnal kelompok. Jurnal kelompok berisi tentang tanggal tugas, bentuk tugas, siswa yang bertanggung jawab menyelesaikan tugas, tanggal penyelesaian tugas serta tanda tangan guru. Jurnal kelompok harus diisi dengan tertib dan diperiksa oleh guru setiap minggu.

Beberapa kegiatan belajar kelompok dapat dijabarkan dalam empat metode. Yang pertama adalah Metode STAD (Student Teams Achievement Divisions). Metode ini dipandang paling sederhana dari pendekatan pembelajaran kelompok.Guru memberikan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu, kemudian anggota kelompok diberi tugas lembar kerja akademik. Lembar tugas tersebut diselesikan oleh masing-masing kelompok dengan cara bekerja sama, saling membantu, ataupun sesuai dengan aturan masing-masing kelompok.

Untuk metode jigsaw, bahan akademik disajikan kepada siswa dalam bentuk teks. Setiap anggota kelompok berkewajiban mempelajari teks tersebut. Siswa yang lebih mampu mengajarkan pemahamannya kepada siswa yang kurang paham, dalam pengertian lain teman sebagai “pengajar kedua” setelah teks dari guru.

Metode GI (Group Investigation) melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Metode ini menuntut siswa memiliki kemampuan baik dalam berkomunikasi maupun keterampilan proses kelompok. Hal yang perlu dilakukan oleh guru dan siswa adalah: seleksi topik, merencnakan kerjasama, implementasi, analisis sintesis, penyajian hasil akhir, dan evaluasi.

Metode Struktural menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk memengaruhi pola-pola interaksi siswa. Ada Struktur yang memiliki tujuan umum (goal) untuk meningkatkan penguasaan isi materi akademik dan ada struktur yang tujuannya untuk mengajarkan keterampilan sosial (social skill).

Dalam pembelajaran berbasis kelompok, terdapat lima langkah utama. Pertama guru mengomunikasikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar. Langkah ini diikuti penyajian informasi dalam bentuk teks maupun verbal. Selanjutnya, siswa diorganisasi dalam kelompok-kelompok belajar, kemudian bekerja bersama-sama untuk menyelesaikan tugas di bawah bimbingan guru. Langkah terakhir meliputi penyajian dari produk akhir kelompok atau mengetes materi yang telah dipelajari siswa.

Mungkin masih banyak cara lain yang bisa dipergunakan untuk meningkatkan keterampilan sosial ( social skill) siswa. Satu hal yang harus selalu diingat, bahwa dengan membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan sosial (social skill) berarti guru telah membantu mereka dalam menemukan dirinya sendiri sehingga mampu berperilaku sesuai norma yang berlaku. (*)
M. ANSHOR SJA’RONI
Guru IPS di SMP Al Falah Deltasari Sidoarjo

Modul

MODUL II Mata Pelajaran : ILMU PENGETAHUAN SOSIALKelas / Semester : VII / IKompetensi Dasar : Mengidentifikasi bentuk-bentuk interaksi sosial

Indikator :       1. siswa dapat menyebutkan tiga bentuk interaksi sosial yang bersifat  Asosiatif             

      

  

BENTUK-BENTUK INTERAKSI SOSIAL

Oleh : M. Anshor Sja’roni, S.Sos

a7b2ddf31.jpg

 Masih ingatkah kalian apakah interaksi sosial itu? Pada dasarnya interaksi sosial merupakan syarat terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Dapat pula dikatakan bahwa interaksi sosial adalah dasar dari proses sosial. Atau proses sosial yang terjadi di masyarakat sebagai akibat dari adanya interaksi sosial. Bentuk-bentuk interaksi sosial (untuk selanjutnya kita sebut dengan bentuk-bentuk proses sosial) dapat dikelompokkan menjadi dua jenis. Selanjutnya kita akan tinjau dua bentuk proses sosial yang terjadi di masyarakat.1.      PROSES SOSIAL ASOSIATIF Proses sosial asosiatif adalah proses sosial yang mengarah pada kesatuan dan keutuhan suatu masyarakat. Proses sosial asosiatif meliputi kerjasama, asimilasi, dan akomodasi. Kita akan bahas satu persatu.

  1. Kerja sama (Cooperation)

Kerja sama adalah usaha bersama antarindividu atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Kerja sama timbul apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama. Akbar, misalnya, mempunyai modal untuk usaha tetapi dia tidak tahu usaha apa. Sementara itu, Ryan adalah seorang pengusaha yang kekurangan modal. Akbar dan Ryan melakukan kerja sama untuk tujuan bersama, yaitu mendapatkan keuntungan. Ini adalah contoh kerja sama antara individu dengan individu. Dapatkah kalian memberi contoh kerja sama antara individu dengan kelompok dan antara kelompok dengan kelompok?. 

  1. Asimilasi (Assimilation)

Asimilasi adalah usaha-usaha untuk mengurangi perbedaan antarindividu atau kelompok untuk tujuan bersama. Asimilasi akan terjadi bila kelompok-kelompok manusia yang berbeda kebudayaan saling bergaul secara langsung dan intensif dalam waktu yang lama sehingga kebudayaan masing-masing kelompok berubah saling menyesuaikan diri. Contoh proses asimilasi: Ayah Febri berasal dari daerah Madura dan ibu Febri dari Betawi. Perbedaan daerah asal kedua orang tua Febri menimbulkan perbedaan budaya (perbedaan bahasa, kebiasaan, atau adat istiadat) diantara keduanya. Namun dengan berjalannya waktu, orang tua Febri dapat menyesuaikan diri dan saling bertoleransi sehingga tidak menimbulkan konflik atau permusuhan.

  1. Akomodasi (Accomodation)

Akomodasi adalah usaha-usaha untuk meredakan suatu pertentangan. Akomodasi merupakan suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan atau membuat malu pihak lawan. Tujuan dari akomodasi adalah:

  1.  
    1. untuk mengurangi pertentangan antara individu-individu atau kelompok-kelompok  manusia sebagai akibat perbedaan paham.
    2. untuk mencegah meledaknya suatu pertentangan.
    3. mengusahakan terjadinya kerja sama.
    4. mengusahakan peleburan kelompok-kelompok yang terpisah.

2.      PROSES SOSIAL DISOSIATIF Proses sosial disosiatif adalah suatu proses yang cenderung mengarah pada perpecahan suatu masyarakat. Proses sosial disosiatif meliputi persaingan (competition), kontravensi, dan pertentangan (conflict).

  1. Persaingan (competition)

Persaingan adalah proses sosial di mana individu atau kelompok berusaha mengalahkan pihak lain tanpa menggunakan ancaman-ancaman atau kekerasan.Persaingan memiliki dua tipe, yaitu:1.      Persaingan yang bersifat pribadi. Sabrina, misalnya, setiap menghadapi ulangan dia tidak mau kalah dengan Putri, dan begitu sebaliknya, Putri tidak mau kalah agar dia menjadi juara kelas. 2.      Persaingan yang bersifat kelompok. Siswa kelas 7-5, misalnya, tidak mau kalah dengan kelas 7-3 dalam hal ketertiban dan kebersihan kelas.

  1. Kontravensi (Contravention)

Kontravensi adalah sikap mental yang tersembunyi terhadap orang lain atau unsur-unsur kebudayaan suatu golongan. Sikap mental atau perasaan yang tersembunyi dapat berupa rasa curiga, tidak suka, atau kebencian. Contoh kontravensi misalnya: fitnah, penghasutan, penyebaran desas-desus, pencemaran nama baik, pembocoran rahasia orang lain, protes, demonstrasi dan lain-lain.      

  1. Pertentangan (conflict)

Pertentangan atau konflik adalah proses sosial di mana individu atau kelompok berusaha mencapai tujuan dengan jalan menantang pihak lawan disertai ancaman dan kekerasan. Pertentangan terbagi menjadi lima bentuk, yaitu:1.      Pertentangan pribadi. 2.      Pertentangan rasial, seperti pertentangan antara warga kulit hitam dan kulit putih di Amerika Serikat.3.      Pertentangan antarkelas sosial, seperti pertentangan antara majikan dan buruh karena perbedaan kepentingan.4.      Pertentangan politik, seperti pertentangan antargolongan atau antarpartai politik di suatu negara.5.      Pertentangan yang bersifat Internasional, seperti pertentangan antarnegara. TUGASI. Uraikan konsep-konsep dasar di bawah ini dengan benar!

  1. Proses sosial Asosiatif
  2. Proses sosial Disosiatif
  3. Akomodasi
  4. Asimilasi
  5. Kerjasama
  6. Persaingan
  7. Kontravensi
  8. Pertentangan

II. Isilah titik-titik di bawah ini dengan singkat dan benar!

  1. Proses sosial yang mengarah pada kesatuan dan keutuhan suatu masyarakat….
  2. Untuk mengurangi pertentangan antara individu-individu atau kelompok-kelompok  manusia sebagai akibat perbedaan paham….
  3. Beberapa orang menyesuaikan diri dan saling bertoleransi sehingga tidak menimbulkan konflik atau permusuhan….
  4. Dua orang melakukan kerja sama untuk tujuan bersama, yaitu mendapatkan keuntungan….
  5. Suatu proses yang cenderung mengarah pada perpecahan suatu masyarakat….
  6. Fitnah, penghasutan, penyebaran desas-desus, pencemaran nama baik, pembocoran rahasia orang lain….
  7. Proses sosial di mana individu atau kelompok berusaha mengalahkan pihak lain tanpa menggunakan ancaman-ancaman atau kekerasan….
  8. Siswa kelas 7-5 tidak mau kalah dengan kelas 7-3 dalam lomba ketertiban dan kebersihan kelas….
  9. Proses sosial di mana individu atau kelompok berusaha mencapai tujuan dengan jalan menantang pihak lawan disertai ancaman dan kekerasan….
  10.  Perang antara Amerika Serikat dengan Irak….

 III. Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar!

  1. Jelaskan proses sosial asosiatif! Tulis pula macamnya!
  2. Jelaskan proses sosial disosistif! Tulis pula macamnya!
  3. Jelaskan tujuan dari akomodasi!
  4. Buatlah contoh dalam kehidupan sehari-hari kontravensi!
  5. Apakah pertentangan selalu bersifat negatif? Jelaskan alasanmu!

    

SELAMAT DATANG

sunset.jpg

Telah kami siapkan beberapa menu di warung sebagai sajian kami kepada anda yang peduli pada pendidikan di negeri ini.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.